Yamaha

Tanggapi Cara Bangunkan Sahur dengan Toa Masjid, Dosen UPI: Harus dengan Qaulan Layyinan

  Senin, 26 April 2021   Redaksi Ayotasik.com
Zaskia Adya Mecca bersama Rama, sosok yang berada di balik suara toa masjid yang diprotes istri Hanung Bramantyo.

BANDUNG, AYOTASIK.COM -- Dosen Pendidikan Bahasa Arab UPI Bandung, Rinaldi Supriadi, menjelaskan, dalam adab, membangunkan sahur dengan toa masjid haruslah berdasarkan prinsip qaulan layyinan atau perkataan yang lembut dan sopan. Menurutnya, kesadaran lebih dari masyarakat menjadi kunci.

Hal tersebut terkait dengan video membangunkan sahur dengan toa masjid yang menjadi perdebatan di media sosial. Video yang diunggah oleh Zaskia Adya Mecca itu memperlihatkan suara seorang pria yang membangunkan sahur dengan cara berteriak.

Rinaldi menuturkan, cara yang dipakai dalam video tersebut memang terlalu keras, dan ada sedikit kekeliruan. "Harus menjaga warga yang beragama lain, ini merupakan perbuatan yang sedikit keliru dalam aspek suara," katanya kepada Ayobandung.com, Sabtu, 24 April 2021.

Dalam hukum Islam, kata Renaldi, membangunkan sahur menggunakan toa termasuk ke dalam kaidah fiqhiyah, yaitu hukum asal segala sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya. "Membangunkan masyarakat menggunakan toa masjid belum ada hukumnya apa-apa maka dengan didasari kaidah tersebut sebetulnya sah-sah saja masyarakat melakukan itu. Kecuali MUI membuat fatwa bahwa membangunkan sahur menggunakan toa masjid tidak boleh atau haram," jelasnya.

Di samping itu, Renaldi memandang penggunaan toa mesjid untuk membangunkan sahur dapat juga dilihat dari perspektif psikologi dan sosiologi. Dalam perspektif psikologi, ia mengutip surat al-Isra ayat 70 tentang penciptaan manusia yang memiliki perbedaan baik dari wajah, sifat, bahkan fisik. Berdasarkan hal itu, respons masyarakat terhadap penggunaan toa untuk membangunkan sahur, tambah Renaldi, sudah pasti berbeda-beda.

"Ada yang merasa terganggu dengan hal tersebut dan dia mengutarakan itu di depan masyarakat atau media sosial. Ada yang merasa terganggu, tetapi tak berani mengutarakannya karena takut ada hal yang tidak diinginkan. Ada yang mempunyai sifat acuh tak acuh karena itu hak masyarakat atau karang taruna setempat. Ada juga mungkin yang menganggap bahwa ini sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa," tambahnya.

Sedangkan dalam perspektif sosiologi ia mengutip surat al-Hujurat ayat 13: "Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda agar adanya interaksi antar sesama manusia untuk saling mengenal dan mempelajari. Sebelum kita mengambil sikap sesuatu kita harus tahu terlebih dahulu keadaan masyarakat sekitar," lanjutnya.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) dalam pelaksana Subdirektorat Kemasjidan, Fakhry Affan menyampaikan bahwa masyarakat diminta menggunakan cara yang santun dalam membangunkan orang untuk sahur. Hal tersebut sesuai dengan aturan pembangunan sahur dengan toa masjid yang telah diatur sejak 1978.(Maswanajih)

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar