Yamaha

Penjual Parcel di Kota Tasikmalaya Kebanjiran Pesanan

  Selasa, 04 Mei 2021   Heru Rukanda
Para karyawan toko rumah parcel di Jalan Tentara Pelajar Kota Tasikmalaya sedang memproduksi parcel, Selasa, 4 Mei 2021). (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

TAWANG, AYOTASIK.COM -- Sejak awal bulan Ramadan, penjual parcel lebaran di Kota Tasikmalaya sudah mulai menjajakan dagangannya.

Seperti halnya di Jalan Tentara Pelajar, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, sejumlah toko penjual parcel sudah banyak yang memajangkan aneka jenis, bentuk, dan ukuran parcelnya.

Salah seorang penjual parcel, Tina Risnawati mengatakan, di awal-awal masa pandemi Covid-19 tahun 2020, dirinya tidak berani memproduksi parcel dengan banyak karena khawatir tidak ada yang beli dampak dari pandemi.

"Ramadan tahub 2020 saya tidak berani nyetok parcel karena takut terlebih saat itu masih awal-awal pandemi," ujar Tina, Selasa, 4 Mei 2021.

Namun, pada kenyataannya minat orang untuk membeli parcel masih cukup tinggi sehingga pihaknya keteteran melayani konsumen yang memesan banyak parcel.

"Jadi tahun lalu itu kita hanya produksi 3 minggu di bulan puasa dan itu pun keteteran. Karena ternyata di masa pandemic orang-orang tetap ingin bersilaturahmi dengan berbagi parcel," ucapnya.

Ia menuturkan, mengambil pelajaran dari tahun lalu di mana awal-awal pandemi masih tetap ramai orang memburu parcel, sehingga di tahun sekarang meskipun masih pandemi dirinya optimis parcel akan laku.

"Sekarang berani nyetok. Kemarin 2 minggu sebelum puasa  sudah menyetok 1.000 parcel," kata dia.

Ia mengatakan, Ramadan 2021 ini produksi parsel dimulai sejak 2 pekan sebelum puasa. Hingga pekan ke 3 puasa dirinya sudah memproduksi lebih dari 4 ribu parcel.

"Stok sudah menipis, sekarang yang dikerjakan merupakan pesanan saja," ungkapnya.

Tina menyebut, para konsumennya rata-rata dari Tasikmalaya. Namun, ada juga yang dari luar Tasikmalaya atau wilayah Priangan Timur, seperti Ciamis, Banjar, dan Garut.

"Kalau dari luar daerah kebanyakan dari penjualan secara daring atau online," ungkapnya.

Harga Mulai Rp125 Ribu hingga Rp3,5 Juta

Harga parcel di rumah parcel yang dikelola oleh Tina sangat bervariatif tergantung dari ukuran dan isi parcelnya.

"Untuk harga mulai dari Rp100 ribu sampai Rp400 ribu untuk yang boks. Sedangkan harga parsel mulai dari Rp125 ribu sampai Rp3,5 juta," ujarnya.

Menurutnya, isi dalam parsel bisa juga dilakukan sesuai permintaan. 

Namun, pihaknya juga telah menyediakan contoh-contoh parcel berikut dengan isinya, dan rata-rata telah disiapkan semua isi parcelnya.

“Kita kasih sampel parcelnya, kalau sudah cocok tinggal dibuatkan, dan kalau ada permintaan ya kita ganti isiannya sesuai permintaan konsumen,” ucapnya.

Lebih lanjut Tina menjelaskan, dari sekian banyak pesanan parcel, pesanan paling banyak dari perusahaan untuk karyawannya. Satu perusahaan pesannya bisa mencapai 400 sampai 700 parsel. Kemudian yang datang secara perorangan juga banyak ke tokonya.

“Kalau yang pesannya banyak kita kasih bonus bebas ongkos pengiriman," kata dia.

Guna meyakinkan konsumen dengan produk parselnya, Tina mengaku menggunakan brand atau merek-merek produk makanan yang sudah popular dan disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

"Jadi orang-orang sudah tahu bagaimana rasanya. Gak ada yang aneh-aneh dan produk luar. Karena kan produk luar yang terlihat kemasannya bagus tapi rasanya belum tentu cocok dengan lidah kita," jelas dia.

Bisnis Parcel Sejak 2008

Ia pun mengisahkan awal mula dirinya berjualan atau berbisnis parcel. Tina mengaku kerap diajak orang tuanya ke toko-toko. Di sana dirinya mulai senang melihat parcel.

Setelah berumah tangga ia pun mencoba peruntungan dengan membuat parcel sendiri. "Awalnya saya buat 4 parcel. Itu sekitar tahun 2008," ujarnya.

Berhari-hari menjajakan parcel hingga sepekan jelang lebaran, tak satu pun parcel terjual. Karena gak ada yang membeli parcelnya, ia pun membuka sendiri parcelnya untuk dikonsumsi.

"Eh esoknya ada yang datang ke toko dan nanyain. Katanya kemarin lihat parcel di tokonya. Saya bilang saja sudah laku, padahal itu dibuka oleh saya karena khawatir tidak laku," ungkapnya seraya tertawa mengingat perjuangan awal berjualan parcel.

Ia menambahkan, sejak saat itu usaha parcelnya terus tumbuh hingga kini ia memiliki lebih dari 16 karyawan di toko parcelnya di Jalan Tentara Pelajar Kota Tasikmalaya.

"Alhamdulillah, usaha parcel ini terus tumbah dan berkembang, serta optimis meski di masa pandemi. Saya berharap, mudah-mudahan semuanya sehat dan mendapat keberkahan. Pandemi ini segera berakhir," pungkasnya.

Isi Parcel Produk Populer 

Guna meyakinkan konsumen dengan produk parselnya, Tina mengaku menggunakan brand atau merek-merek produk makanan yang sudah popular dan disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. 

"Jadi orang-orang sudah tahu bagaimana rasanya. Gak ada yang aneh-aneh dan produk luar. Karena kan produk luar yang terlihat kemasannya bagus tapi rasanya belum tentu cocok dengan lidah kita," jelas dia. 

Ia pun mengisahkan awal mula dirinya berjualan atau berbisnis parcel. Tina mengaku kerap diajak orang tuanya ke toko-toko. Di sana dirinya mulai senang melihat parcel. 

Setelah berumah tangga ia pun mencoba peruntungan dengan membuat parcel sendiri. "Awalnya saya buat 4 parcel. Itu sekitar tahun 2008," ujarnya. 

Berhari-hari menjajakan parcel hingga sepekan jelang lebaran, tak satu pun parcel terjual. Karena gak ada yang membeli parcelnya, ia pun membuka sendiri parcelnya untuk dikonsumsi. 

"Eh esoknya ada yang datang ke toko dan nanyain. Katanya kemarin lihat parcel di tokonya. Saya bilang saja sudah laku, padahal itu dibuka oleh saya karena khawatir tidak laku," ungkapnya seraya tertawa mengingat perjuangan awal berjualan parcel.

Ia menambahkan, sejak saat itu usaha parcelnya terus tumbuh hingga kini ia memiliki lebih dari 16 karyawan di toko parcelnya di Jalan Tentara Pelajar Kota Tasikmalaya. 

"Alhamdulillah, usaha parcel ini terus tumbah dan berkembang, serta optimis meski di masa pandemi. Saya berharap, mudah-mudahan semuanya sehat dan mendapat keberkahan. Pandemi ini segera berakhir," pungkasnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar