Kampung Naga Bukan Tempat Wisata Biasa

  Rabu, 16 Juni 2021   Handy Dannu Wijaya
Kampung Naga Bukan Tempat Wisata Biasa

Ayotasik.com - Kampung Naga yang notabene terkenal karena adat yang melekat bukan hanya menjadi tempat wisata biasa. Lokasi wisata sekaligus kampung adat yang terletak di Jalan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini selalu tenang, damai dan sejuk. Itulah mengapa banyak orang yang mengunjungi lokasi wisata ini untuk mendapatkan suasana asri dan tenang. Bagi anda yang bingung untuk menuju lokasi ini, anda bisa menggunakan bantuan Google Maps atau menanyakan pada warga sekitar karena area wisata Kampung Naga sudah tersohor.

Ketenangan, kedamaian dan kesejukan itu lantaran suasana pemandangan kampung naga yang masih asri, udara yang sejuk karena dikelilingi pepohonan dan damai jauh dari hiruk pikuk perkotaan. 

Mengunjungi Kampung Naga kita bisa mempelajari banyak hal. Seperti bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam, menjaga dan melestarikan alam. Yang tidak kalah pentingnya yakni, bagaimana mereka menjalani hidup secara sederhana ditengah gempuran modernisasi. Kesederhaan dalam menjalani hidup dapat dilihat dari kondisi rumah warga kampung naga. Keseluruhan rumah dan bangunan, berbahan kayu dan bambu. Atapnya menggunakan ijuk yang sangat tebal. Bukan hanya dari bentuk bangunan rumah, kesederhaan itu terlihat dari kondisi didalam rumah.

Setiap rumah di Kampung Naga tidak memiliki perabotan seperti kursi, meja, tempat tidur, maupun perabotan rumah tangga lainnya. Keperluan memasak, warga Kampung Naga masih menggunakan tungku dengan bahan kayu bakar. Bahkan warga, tidak menggunakan listrik. Meski secara materi warga mampu untuk membangun rumah bertembok atau membeli perabotan, tapi hal itu tidak dilakukan.

Banyak hal yang bisa dilakukan di Kampung Naga ini, mulai dari berswafoto, memberi makan ikan, hingga memancing di aliran sungai yang berada tepat di area Kampung Naga. Tidak sedikit juga yang berkunjung kesini untuk melakukan olah raga dan melakukan peregangan otot. Ini karena akses menuju Kampung Naga sendiri harus melewati puluhan anak tangga yang bisa membuat anda berkeringat.

Untuk memberi makan ikan tidak serta merta anda bisa memberikan makanan apapun, sudah disediakan pakan ikan dengan harga Rp. 2,000 untuk satu plastik makananan ikan yang bisa anda berikan. Ini karena untuk menjaga kesehatan ikan itu sendiri. 

Wisatawan memberi makan ikan di kolam ikan Kampung Naga
Wisatawan memberi makan ikan di kolam ikan Kampung Naga

"Saya sengaja kesini buat olah raga, karena kebetulan rumah dekat dengan Kampung Naga" - ujar Lisnawati pengunjung yang AyoTasik.com wawancara pada 16 Juni 2021.

Salah satu wisatawan lokal lainnya mengungkapkan, ia mengunjungi Kampung Naga karena tertarik dengan bentuk rumah dan keadaan sepi yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Selain itu, ia ingin melihat langsung kondisi Kampung Naga secara langsung. 

Wisatawan menuruni anak tangga (ayotasik)

Wisatawan menuruni anak tangga menuju area rumah Kampung Naga

Tidak ada aturan khusus memang ketika mengunjungi wisata Kampung Naga ini. Tapi yang harus diperhatikan adalah tidak bolehnya berkerumun, membuang sampah sembarangan, dan mengambil ikan di kolam yang berada di area rumah adat. Tidak ada iuran tiket masuk ketika mengunjungi Wisata Kampung Naga, namun anda harus menyiapkan Rp. 2,000 - Rp. 5,000 untuk retribusi parkir kendaraan. Tidak perlu cemas jika anda merasa lapar atau haus, karena banyak pedagang makanan yang bisa anda kunjungi di area Kampung Naga ini. 

Warga memancing di area sungai Kampung Naga
Warga memancing di sungai area Kampung Naga

Ketua Himpunan Pramuwisata Kampung Naga (Himpana) Ucu Suherlan mengatakan, kebiasanaan warga mempertahankan kesederhanaan sudah terbentuk sejak lama dan diwariskan secara turun temurun itu.

"Sehingga menjadi aturan yang tidak tertulis bagi warga dalam menjalani kehidupan sehari-hari," ucap Ucu, Rabu (16/6/2021).

Warga Kampung Naga, kata Ucu, berprofesi sebagai petani. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi dan pisang. Warga juga memanfaatkan kolam ikan yang ada. Bahkan ada juga warga yang menggeluti  kerajinan seperti hihid (kipas dari bambu), boboko, tolombong, aseupan, tempat tisu, hiasan lampu dan tempat sampah.

"Mereka jajakan didepan rumah, untuk ditawarkan kepada wisatawan. " ujar Ucu.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar